Kuswan (FK Cikalong-Tasikmalaya)
Tepat 200 Km dari Bandung tampak rimbun menghijau hutan pandan sepanjang pantai Cikalong. Sedikitnya 4 dari 13 desa di Kecamatan Cikalong Kab. Tasikmalaya, secara geografis termasuk desa tepi pesisir, sedangkan sisanya termasuk desa dataran. Terutama di desa-desa tepi pesisir tersebut yaitu, Desa Cimanuk, Kalapagenep, Sindangjaya, Mandalajaya dan sebagian wilayah Desa Cikadu memang banyak ditumbuhi pohon pandan.
Tepat 200 Km dari Bandung tampak rimbun menghijau hutan pandan sepanjang pantai Cikalong. Sedikitnya 4 dari 13 desa di Kecamatan Cikalong Kab. Tasikmalaya, secara geografis termasuk desa tepi pesisir, sedangkan sisanya termasuk desa dataran. Terutama di desa-desa tepi pesisir tersebut yaitu, Desa Cimanuk, Kalapagenep, Sindangjaya, Mandalajaya dan sebagian wilayah Desa Cikadu memang banyak ditumbuhi pohon pandan.
Selain berfungsi menjaga abrasi pantai dan pemecah ombak saat terjadi resiko bencana tsunami, pandan-pandan tersebut juga menyimpan berjuta potensi ekonomi terutama untuk menunjang perkembangan bidang industri ekonomi kreatif khususnya di Tasikmalaya. Tetapi itu adalah keadaan sekitar tiga tahun yang lalu, belakangan di beberapa tempat tampak gersang dan kering kerontang. Penyebabnya lahan-lahan pandan ini banyak yang sengaja di bakar untuk kepentingan eksploitasi tambang pasir besi.
Relatif kecil memang bantuan dana PNPM untuk kegiatan pandan ini, yaitu hanya Rp 4.470.000. Tujuan utamanya memang hanya untuk dana stimulan untuk setidaknya mempertahankan motivasi usaha kaum perempuan dalam memanfaatkan potensi lokal pesisir tersebut. Dengan tetap menghangatnya usaha pandan tersebut setidaknya dapat mengurangi minat pemilik/penguasa lahan pandan untuk dijual ke perusahaan tambang pasir besi yang notabene banyak berasal dari kalangan warga asing.
Hasilnya, sebut saja Ibu Hartini, salah satu ketua Kelompok SPP di Desa Cikadu yang mendapat bantuan paket alat pengolahan daun pandan tersebut. Kini, tidak kurang dari 6 kuintal daun pandan kering per minggu termasuk dari 10 orang anggotanya yang dijual dengan harga Rp 5.500/kg untuk kualitas sedang (sedikit kasar) serta Rp 7.000/kg untuk kualitas baik (halus).
Pandan-pandan tersebut ikut memasok kebutuhan permintaan daun pandan dari Kecamatan Ciawi dan Rajapolah untuk pusat oleh-oleh Tasikmalaya serta dari Majalengka bahkan sampai ke Kota Solo. Produk kerajinan pandan Cikalong yang dihasilkan dari Tasikmalaya ini disebut-sebut bahkan sudah diminati sampai ke Korea. Usaha ini dianggap lebih maslahat ketimbang mendukung penjualan lahan pandan untuk kepentingan tambang yang notabene dianggap belum terjamin dari aspek dampak/kerusakan lingkungan yang mungkin ditimbulkan.
Memang diakui, pengolahan pandan di Cikalong ini masih terbatas karena lebih didominasi hanya usaha untuk menghasilkan produk setengah jadi, berupa helain-helaian daun pandan kering. Pengrajin hanya memanen, menyuak (membuang duri dan membelah daun pandan menjadi helaian-helaian kecil), merebus dan merendam untuk membuang getah serta menjemur. Nilai ekonominya memang lebih rendah jika dibanding dengan produk jadi berupa hasil kerajinan seperti tikar, kursi dan tas.
Tetapi perputaran usaha tersebutlah yang dianggap lebih epektif dan efisien untuk segera mendapat keuntungan. Minat untuk mengembangkan produk pandan langsung menjadi produk kerajinan memang masih terus diupayakan, meskipun hal ini baru sebatas tantangan yang masih berada dalam awan catatan cita-cita. Semoga saja dapat segera terwujud.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar