Jamur merang merupakan makanan
khas berkhasiat yang akhir-akhir dicari banyak kalangan. Jamur merang sangat
lezat dan memiliki kandungan protein yang tinggi untuk tubuh manusia. Jamur
merang banyak dijumpai di Desa Sukahaji dan Pinangsari, Kecamatan Ciasem. Di
kedua desa yang lokasinya didominasi areal pesawahan ini banyak terdapat
kelompok-ke-lompok masyarakat yang memiliki usaha jamur merang.
Hal ini tentu terkait dengan
banyaknya bahan baku atau media tanaman jerami yang terdapat di sawah-sawah di
kedua desa tersebut, namun selama ini tidak pernah dilirik atau dimanfaatkan
oleh penduduk maupun petani. Dengan demikian, tidak ada nilai plus yang bisa
digunakan sebagai usaha sampi-ngan untuk membantu kehidupan mereka.
Tumbuhnya budidaya jamur merang
di Desa Sukahaji dan Pinangsari memang pada awalnya diprakarsai oleh sejumlah
pengusaha atau bandar jamur yang mencoba membuat budidaya jamur merang untuk
kebutuhan usaha mereka. Tetapi dalam perkembangan kemudian setelah jamur
me-rang itu berhasil dibudidayakan oleh para bandar, muncul minat dari para
petani dan penduduk setempat untuk berbuat serupa.
Keberhasilan budidaya jamur
merang tentu saja tak terlepas dari faktor alam, yaitu karena ditunjang oleh
suhu udara di sekitar kedua desa yang sesuai dengan kebutuhan tanaman jamur.
Sekarang Desa Sukahaji dan Pinangsari dikenal sebagai produsen jamur merang. Budidaya itu terus tumbuh dengan
memanfaatkan areal lahan yang tersedia, bahkan mulai banyak digunakan
pekarangan rumah. Di kedua desa bermunculan kelompok-kelompok maupun perorangan
sebagai pelaku budidaya jamur merang. Tidak sampai di situ, selanjutnya petani
bisa membuat olahan jamur menjadi kerupuk jamur merang.
Ide pembuatan kerupuk jamur
merang timbul karena jamur merang mudah rusak, sehingga produknya tidak tahan
lama dan hal ini dapat me-ngurangi nilai pendapatan. Sekedar menjual jamur
merang petani tidak terlalu diuntungkan. Tetapi dengan cara melalui olahan
kerupuk, para petani jamur mempunyai keuntungan yang cukup berlipat, selain
bisa tahan lama sekaligus tidak membusuk, juga harga jualnya jauh lebih tinggi.
Kerupuk, apapun ragam dan
jenisnya seperti kerupuk udang, kerupuk kulit, kerupuk singkong, dll termasuk
kerupuk jamur merang, merupakan pelengkap makanan utama yang cukup akrab bagi
setiap keluarga. Kerupuk dapat membangkitkan selera makan atau pun sekedar
sebagai cemilan dan makanan kecil.
Pembuatan kerupuk tidak
memerlukan keterampilan khusus, juga tidak memerlukan peralatan canggih. Oleh
ka-rena itu kami mencoba mendorong pembaca untuk membuat kerupuk sendiri. Usaha
kerupuk jika dilakoni serius dapat menjadi usaha industri rumah tangga yang
prospektif. Sebagai pedoman untuk memulai usaha, buku ini akan menguraikan
secara detail pembuatan kerupuk jamur merang.
PELUANG PASAR
Pasar kerupuk jamur merang cukup
luas karena banyak orang yang suka oleh rasa dan kerenyahannya. Namun potensi
itu belum dibarengi oleh upa-ya pemasaran yang maksimal, sehingga produk
kerupuk Jamur merang ini belum begitu menyebar. Kerupuk jamur dari Desa
Sukahaji dan Pinangsari. Paling jauh baru menjangkau Cilamaya, Kabupaten
Karawang.
Di samping itu, kendala lain
adalah pengolahan kerupuk jamur me-rang masih menggunakan cara tradisional,
sehingga tidak mampu meme-nuhi kebutuhan pasar yang sebetulnya cukup besar.
Produksi kerupuk jamur merang dari kedua desa itu masih berskala kecil alias
terbatas. Meski begitu tetap memiliki prospek yang bagus karena konsumen yang
suka pada kerupuk ini cukup banyak.
PROSES PEMBUATAN
Pembuatan kerupuk jamur merang
ini meliputi sbb:
Bahan Baku:
1. Jamur merang.
2. Tepung Tapioka.
3. Telur bebek.
4. Garam.
5. Kemiri.
6. Ketumbar.
7. Minyakgoreng.
8. Bawang putih.
9. Penyedap rasa (sasa).
Peralatan yang digunakan yaitu :
1. Blender.
2. Panci.
3. Pengorengan.
4. Tampah.
5. Plastik kemas.
6. Alat potong mekanik.
7. Alat press.
Proses produksi
Pertama, jamur diblender sampai halus, kemudian
direbus sampai mendidih.
Kedua, jamur dicampur tepung tapioka dan dibuat
adonan bumbu yang sudah dihaluskan sampai terasa kental dan kenyal.
Ketiga, setelah terbentuk adonan, kemudian direbus
kembali sampai matang. Setelah itu ditiriskan dan dikeringkan (dijemur) sampai
benar-benar kering.
Keempat, setelah kering kemudian diiris tipis
sesuai ukuran kebutuhan
Kelima, setelah diiris, kerupuk siap masuk proses
penggorengan.
Proses pengemasan/packing:
Setelah tahap penggorengan selesai, kerupuk
ditiriskan sebelum dikemas, kemasan menggunakan plastik trasparan dan dilakukan
pressing.
ANALISIS USAHA
Harga per piece : Rp 300,- (isi 4-5 keping)
Harga per kg : Rp 5.000,-
Harga jamur mentah : Rp 1.000,-/Kg.
Harga bahan lain-lain : Rp 5.000,-/Kg Jamur.
Harga plastik : Rp 5,-/ bh
Upah pekerja : Rp 5.000,-
Dalam 1 kg menghasilkan : 50 bungkus x Rp. 300,-
= 15,000,-
A. Modal (per 1 kg ) = Rp. 11,005,-
B. Hasil kerupuk = 50 bungkus x Rp. 300,-
= 15,000,-
C. Keuntungan (A – B ) = Rp. 4,000,- per Kg.
Rincian pembuatan per 2 kg :
1. Tepung tapioka = 2 kg.
2. Jamur = 1 kg.
3. Telur = 2 butir.
4. Garam = 5 sendok makan.
5. Ketumbar = 3 sendok makan.
6. Kemiri = 1 ons.
7. Penyedap rasa = secukupnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar