Minggu, 16 Maret 2014

Ternak Domba Bergulir ala PNPM Kec. Cikaong Tasikmalaya

Kuswan, SP (FK Cikalong-Tasikmalaya)
Kabupaten Tasikmalaya terus berpacu dengan waktu untuk mewujudkan target-taget pembangunan terutama yang tercantum pada dokumen  RPJMD periode 2011-2015. Salah satu target yang termasuk tidak mudah pada evaluasi akhir pada tahun 2015 nanti adalah pencapaian jumlah domba yang diternak masyarakatnya agar mencapai setidaknya 344.529 ekor dari kondisi tahun 2010 lalu sebanyak 271.191 ekor. Disebut tidak mudah karena jumlah tersebut relatif paling tinggi dibanding target binatang ternak berkaki empat lainnya seperti sapi potong (45.732 ekor), sapi perah (3.396 ekor), kerbau 19.549 ekor dan kambing (82.041 ekor). Selain itu Pemkab Tasikmalaya juga terus berupaya untuk mencapai target penyerapan tenaga kerja di bidang usaha peternakan satwa ternak kecil (Kambing, Domba, Kelinci) agar  mencapaia 85.314 RTP pada 2015 nanti dari kondisi 67.842 RTP pada 2010 lalu.
     
       Salah seorang pegawai di Bapeda Kab. Tasikmalaya pernah mengilustrasikan : “Jika saja dibariskan, mungkin jalan Tasikmalaya-Cikalong (± 100 km) sudah penuh sesak dengan antrian domba.” Jika mengacu dengan pernyataan tersebut, idealnya tagetan tersebut sudah tercapai sejak lama, sebab tidak sedikit program-program bantuan domba yang pernah dilaksanakan. Namun, faktanya tidaklah demikian. Tidak jarang malah muncul istilah baru di masyarakat, seperti bantuan domba bergulir yang sering diplesetkan menjadi bantuan domba terkilir dan domba bantuan béak dihakan bayawak (habis disantap biawak) yang mencederai kesuksesan program-program bantuan ternak tersebut.
       Selain masih perlunya perbaikan komitmen dan amanah masyarakat dalam melestarikan program-program bantuan domba bergulir, secara umum minat masyarakat terutama kalangan generasi muda untuk beternak domba memang terjadi penurunan. Untuk kembali meningkatkan motivasi masyarakat termasuk generasi muda serta ikut bersinergi dengan target pemerintah kabupaten maka di Desa Panyiaran Kecamatan Cikalong Kabupaten Tasikmalaya telah dilaksanakan penyaluran 12 ekor domba betina dewasa (siap beranak) untuk 12 orang anggota RTM. Dana kegiatan ini mencapai Rp 13.000.000,- bersumber dari alokasi bantuan langsung RTM hasil surplus Unit Pengelola Kegiatan (UPK). Agar diketahui, akhir tahun 2013 UPK PNPM Kecamatan Cikalong berhasil membukukan laba kotor hasil perguliran SPP sebesar Rp 925.393.089 dan disepakati melalui musyawarah antar desa laporan pertanggungjawaban UPK mengalokasikan dana sosial sebesar Rp 169.000.000 atau 23.5 % dari surplus bersih.
“Di desa pernah banyak kegiatan-kegiatan simpan pinjam sejenis SPP yang seharusnya bergulir malah mandeg, tetapi ketika dikelola melalui PNPM hasilnya positif. Nah, begitu pula dengan bantuan domba bergulir yang malah terkilir, tetapi jika dikelola melalui PNPM Insya Allah hasilnya akan positif juga.” Begitulah Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Bapak Jajat Sudrajat meyakinkan ketika disinggung soal bantuan domba béak dihakan bayawak. Keseriusan pemerintah desa dalam menjawab tantangan dari pihak-pihak yang memandang pesimis akan keberhasilan kegiatan domba PNPM bergulir ini cukup mendapat apresiasi tokoh-tokoh masyarakat setempat. Jika dibandingkan dengan target capaian jumlah domba di Kabupaten Tasikmalaya tahun 2015 nanti, 12 ekor domba bantuan  ini memang tidak ada artinya. Tetapi spirit untuk melestarikan nilai-nilai kegiatan PNPM untuk bersinergi dengan target pengentasan kemiskinan oleh pemerintah kabupaten ini lah yang juga patut diacungi jempol.
Kegiatan domba bergulir ini pada skala yang lebih luas diharapkan tidak saja untuk menstimulan gairah ekonomi masyarakat tetapi lebih dari itu juga untuk mempromosikan peningkatan  konsumsi masyarakat terutama anak usia dini terhadap daging domba. Secara umum Pemkab Tasikmalaya sendiri seperti yang tercantum pada dokumen RPJMD 2011-2015,  pada akhir tahun 2015 nanti tingkat konsumsi masyarakat terhadap daging ditargetkan setidaknya 15,62 kg/kapita/tahun. Sayang, masih melekatnya stigma negatif yang menyebutkan daging domba sebagai sumber penyakit telah menjadi salah satu penyebab minimnya catatan angka konsumsi daging domba di Indonesia yang hanya mencapai 0.24 gram per kapita per hari. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan di Inggris yang pemerintahnya bahkan menganjurkan untuk memberikan olahan daging domba muda (kurang dari 1 tahun) atau sering disebut lamb untuk dikonsumsi balita. Promosi konsumsi daging domba juga digiatkan di Kanada yang merekomendasikan konsumsi daging domba bahkan hingga 2-3 kali per minggunya. Daging domba muda memang kaya dengan kandungan protein, zat besi, omega 3 dan omega 6 yang baik untuk kesehatan jantung.
            “Alhamdulillah, satu persatu daftar rencana pembangunan yang tercantum pada dokumen RPJMDes dan RKPDes bisa dilaksanakan. Terimakasih kepada ibu-ibu kelompok SPP yang sudah disiplin mengelola kegiatan ekonomi bergulir sehingga tahun ini desa kita memiliki kegiatan domba bergulir.” Begitulah penuturan Bapak Nahidin Hidayat selaku Kepala Desa.
            Sampai akhir tahun 2013 lalu, kumulatif penerima manfaat SPP di Desa Panyiaran telah mencapai 1.291 dari 15.710  se-Kecamatan Cikalong. Kumulatif alokasi pinjaman SPP yang dijadikan modal usaha kelompok perempuan ini juga telah mencapai  Rp 2.267.000.000 dari Rp 26.153.200.000 sekecamatan yang berbatasan dengan laut Australia di ujung selatan Tasikmalaya ini.

            “Potensi peningkatan daya beli masyarakat melalui pengelolaan ekonomi bergulir PNPM mari terus kita lestarikan dan ditingkatkan. Manfaatnya akan dinikmati masyarakat termasuk yang tingkat ekonomi masih belum beruntung. Semoga bantuan domba bergulir ini tidak menjadi bantuan domba terkilir.” Begitulah harapan Pak Kades sekaligus menutup sambutannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar