Kuswan, SP (FK Cikalong-Tasikmalaya)
Kabupaten
Tasikmalaya terus berpacu dengan waktu untuk mewujudkan target-taget
pembangunan terutama yang tercantum pada dokumen RPJMD periode 2011-2015. Salah satu target
yang termasuk tidak mudah pada evaluasi akhir pada tahun 2015 nanti adalah
pencapaian jumlah domba yang diternak masyarakatnya agar mencapai setidaknya 344.529 ekor dari kondisi tahun 2010 lalu
sebanyak 271.191 ekor. Disebut tidak mudah karena jumlah tersebut relatif
paling tinggi dibanding target binatang ternak berkaki empat lainnya seperti sapi potong (45.732 ekor), sapi perah (3.396 ekor), kerbau
19.549 ekor dan kambing (82.041 ekor). Selain itu Pemkab Tasikmalaya juga terus
berupaya untuk mencapai target penyerapan
tenaga kerja di bidang usaha peternakan satwa ternak kecil (Kambing,
Domba, Kelinci) agar mencapaia 85.314
RTP pada 2015 nanti dari kondisi 67.842 RTP pada 2010 lalu.
Salah seorang pegawai di Bapeda Kab. Tasikmalaya pernah mengilustrasikan : “Jika saja dibariskan, mungkin jalan Tasikmalaya-Cikalong (± 100 km) sudah penuh sesak dengan antrian domba.” Jika mengacu dengan pernyataan tersebut, idealnya tagetan tersebut sudah tercapai sejak lama, sebab tidak sedikit program-program bantuan domba yang pernah dilaksanakan. Namun, faktanya tidaklah demikian. Tidak jarang malah muncul istilah baru di masyarakat, seperti bantuan domba bergulir yang sering diplesetkan menjadi bantuan domba terkilir dan domba bantuan béak dihakan bayawak (habis disantap biawak) yang mencederai kesuksesan program-program bantuan ternak tersebut.
Selain masih perlunya perbaikan
komitmen dan amanah masyarakat dalam melestarikan program-program bantuan domba
bergulir, secara umum minat masyarakat terutama kalangan generasi muda untuk
beternak domba memang terjadi penurunan. Untuk kembali meningkatkan motivasi
masyarakat termasuk generasi muda serta ikut bersinergi dengan target
pemerintah kabupaten maka di Desa Panyiaran Kecamatan Cikalong Kabupaten
Tasikmalaya telah dilaksanakan penyaluran 12 ekor domba betina dewasa (siap
beranak) untuk 12 orang anggota RTM. Dana kegiatan ini mencapai Rp 13.000.000,-
bersumber dari alokasi bantuan langsung RTM hasil surplus Unit Pengelola
Kegiatan (UPK). Agar diketahui, akhir tahun 2013 UPK PNPM Kecamatan Cikalong
berhasil membukukan laba kotor hasil perguliran SPP sebesar Rp 925.393.089 dan
disepakati melalui musyawarah antar desa laporan pertanggungjawaban UPK
mengalokasikan dana sosial sebesar Rp 169.000.000 atau 23.5 % dari surplus
bersih.
“Di
desa pernah banyak kegiatan-kegiatan simpan pinjam sejenis SPP yang seharusnya
bergulir malah mandeg, tetapi ketika dikelola melalui PNPM hasilnya positif.
Nah, begitu pula dengan bantuan domba bergulir yang malah terkilir, tetapi jika
dikelola melalui PNPM Insya Allah hasilnya akan positif juga.” Begitulah Ketua
Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Bapak Jajat Sudrajat meyakinkan ketika
disinggung soal bantuan domba béak
dihakan bayawak. Keseriusan
pemerintah desa dalam menjawab tantangan dari pihak-pihak yang memandang
pesimis akan keberhasilan kegiatan domba PNPM bergulir ini cukup mendapat
apresiasi tokoh-tokoh masyarakat setempat. Jika dibandingkan dengan
target capaian jumlah domba di Kabupaten Tasikmalaya tahun 2015 nanti, 12 ekor
domba bantuan ini memang tidak ada
artinya. Tetapi spirit untuk melestarikan nilai-nilai kegiatan PNPM untuk
bersinergi dengan target pengentasan kemiskinan oleh pemerintah kabupaten ini
lah yang juga patut diacungi jempol.
Kegiatan
domba bergulir ini pada skala yang lebih luas diharapkan tidak saja untuk
menstimulan gairah ekonomi masyarakat tetapi lebih dari itu juga untuk
mempromosikan peningkatan konsumsi
masyarakat terutama anak usia dini terhadap daging domba. Secara umum Pemkab
Tasikmalaya sendiri seperti yang tercantum pada dokumen RPJMD 2011-2015, pada akhir tahun 2015 nanti tingkat konsumsi
masyarakat terhadap daging ditargetkan setidaknya 15,62 kg/kapita/tahun. Sayang, masih
melekatnya stigma negatif yang menyebutkan daging domba sebagai sumber penyakit
telah menjadi salah satu penyebab minimnya catatan angka konsumsi daging domba di
Indonesia yang hanya mencapai 0.24 gram per kapita per hari. Hal ini berbeda
dengan yang dilakukan di Inggris yang pemerintahnya bahkan menganjurkan untuk
memberikan olahan daging domba muda (kurang dari 1 tahun) atau sering disebut lamb untuk dikonsumsi balita. Promosi
konsumsi daging domba juga digiatkan di Kanada yang merekomendasikan konsumsi
daging domba bahkan hingga 2-3 kali per minggunya. Daging domba muda memang
kaya dengan kandungan protein, zat besi, omega 3 dan omega 6 yang baik untuk
kesehatan jantung.
“Alhamdulillah, satu persatu daftar
rencana pembangunan yang tercantum pada dokumen RPJMDes dan RKPDes bisa
dilaksanakan. Terimakasih kepada ibu-ibu kelompok SPP yang sudah disiplin
mengelola kegiatan ekonomi bergulir sehingga tahun ini desa kita memiliki
kegiatan domba bergulir.” Begitulah penuturan Bapak Nahidin Hidayat selaku
Kepala Desa.
Sampai akhir tahun 2013 lalu,
kumulatif penerima manfaat SPP di Desa Panyiaran telah mencapai 1.291 dari
15.710 se-Kecamatan Cikalong. Kumulatif
alokasi pinjaman SPP yang dijadikan modal usaha kelompok perempuan ini juga
telah mencapai Rp 2.267.000.000 dari Rp 26.153.200.000 sekecamatan yang berbatasan
dengan laut Australia di ujung selatan Tasikmalaya ini.
“Potensi
peningkatan daya beli masyarakat melalui pengelolaan ekonomi bergulir PNPM mari
terus kita lestarikan dan ditingkatkan. Manfaatnya akan dinikmati masyarakat
termasuk yang tingkat ekonomi masih belum beruntung. Semoga bantuan domba
bergulir ini tidak menjadi bantuan domba terkilir.” Begitulah harapan Pak Kades
sekaligus menutup sambutannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar