Minggu, 19 Januari 2014

Debut Usaha Kripik Masyarakat Cikalong (Bag.1)

  Tanggal 16 dan 17 Oktober merupakan dua hari penting dunia. Tanggal pertama diperingati sebagai perhelatan hari pangan sedunia dan hari berikutnya merupakan hari pengentasan kemiskinan internasional. Masyarakat di dekat garis terluar perbatasan Indonesia, tepatnya di Desa Cimanuk Kecamatan Cikalong Kabupaten Tasikmalaya tidak mau ketinggalan dengan kedua momentum tersebut.
  Desa di wilayah pesisir yang berbatasan dengan lautan lepas Samudera Australia ini pada tanggal 16 Oktober 2013 melaksanakan pelatihan pembuatan kripik singkong dari anggaran PNPM-MP T.A 2013. Terdengar sangat sederhana, namun langkah kecil ini dianggap sebagai lompatan besar untuk kegiatan ini dirasa ikut mendukung program pemerintah untuk melakukan diversifikasi (penganekargaman) pangan menggunakan bahan lokal berbasis umbi-umbian.

Selanjutnya, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas khususnya kelompok perempuan dalam menopang ekonomi keluarga.Desa Cimanuk selain memiliki potensi perikanan dan pariwisata juga memiliki potensi pertanian yang cukup menjanjikan. Sebagai desa di wilayah pesisir, tidaklah heran jika di Desa Cimanuk terdapat beberapa produk agribisnis pesisir berbasis perkelapaan seperti sabut, tempurung, kopra kelapa dan gula merah.
   Namun, ada juga produk pertanian lain yang juga menggeliat yaitu singkong. Terutama ketika kemarau panjang, tanaman ini menjadi alternatif pangan dan sumber lain penghasilan warga yang nilainya cukup lumayan. Sayangnya nilai ekonomi dari hasil panen singkong ini dinilai masih rendah karena dijual langsung ‘mentah-mentah’ ke pengepul di luar wilayah desa. Hasil panen petani sigkong tersebut umumnya dijual ke Kecamatan Cimerak Kabupaten Pangandaran yang berbatasan langsung ke sebelah timur dari Desa Cimanuk.
   Kepala Desa Cimanuk, Bapak Cecep Abdulah, S.Ag yang juga ketua BKAD Kecamatan Cikalong cukup lama merasa prihatin atas kondisi tersebut. Bak gayung bersambut, pada review Musyawarah Khusus Perempuan (MKP) PNPM-MP T.A 2013 peserta musyawarah banyak yang mengusulkan pengadaan alat dan pelatihan pembuatan kripik singkong.
“Usulan ibu-ibu ini sinergi dengan visi-misi Kami yang ingin meningkatkan produktivitas usaha masyarakat Desa Cimanuk”. Begitulah tutur Pak Kades pada suatu kesempatan. “Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dengan adanya kebijakan ini. Bongan usulan ibu-ibu mah sok éléh waé. Kelompok baru kadanaan tina guliran, urang bakal nambahan usaha nyieun kiripik yeuh !”
Begitulah komentar salah satu peserta menanggapi hasil musyawarah, menyusul ditetapkannya Kecamatan Cikalong yang harus membatalkan hasil penetapan pendanaan SPP pada MAD Penetapan Usulan melalui Surat Ditjen Pemberdayaan Masyarakat Desa Kemendagri Nomo 991/1806/PMD. Mereka umumnya menyambut baik dan bersyukur atas kebijakan tersebut karena selama ini usulan kelompok perempuan nyaris selalu ‘kalah’ ketika Musyawarah Antar Desa Prioritas.

Untuk kelompok baru yang sebelumnya telah mengusulkan pinjaman dari kegiatan Simpan Pinjam Khusus Kelompok Prempuan (SPP) pun dengan kebijakan tersebut tidak perlu merasa kecewa karena usulannya tetap didanai melalui mekanisme perguliran UPK. Singkat cerita setelah melalui rangkaian tahapan perencanaan lainnya, mulai dari penulisan usulan hingga MAD Khusus, akhirnya ditetapkanlah usulan di atas disetujui forum musyawarah.

Dengan anggaran sebesar Rp 15 juta ditambah dengan swadaya uang tunai sebesar 1,5 juta rupiah usulan tersebut direalisasikan bertepatan dengan momentum hari pangan sedunia dan hari pengentasan kemiskinan internasional tersebut. Pelatihan dilaksanakan di Gedung Olahraga Desa Cimanuk dengan diikuti 50 orang peserta dari perwakilan 10 kelompok SPP yang ada. Narasumber didatangkan dari Desa Cimerak Kecamatan Cimerak Kabupaten Pangandaran yang sudah lama menggeluti bisnis kripik singkong.
   “Saya memproduksi kripik singkong sampai sekitar 8 kuintal per minggunya.” Begitulah awal pemaparan narasumber yang akrab dipanggil Kang Mumu itu berusaha meyakinkan peserta. “Siapa di sini yang belum pernah membuat kripik?”. Semua peserta tunjuk tangan pertanda semuanya sudah memiliki pengalaman mempraktekan pembuatan kripik. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar