Minggu, 19 Januari 2014

Debut Usaha Kripik Masyarakat Cikalong (Bag.2)

Oleh: Kuswan (FK Cikalong-Tasikmalaya)
  Persoalannya adalah hasilnya kurang disukai konsumen karena kripik hasil kelompok ibu-ibu tersebut tidak renyah. Rahasia dari jawaban persoalan tersebut rupanya adalah hal sederhana yang semuanya terungkap tuntas melalui pelatihan ini.
   Selain mendapatkan bekal ilmu, setiap kelompok SPP juga mendapat seperangkat alat pembuatan kripik seperti alat semi manual pengiris singkong, katel besar, kompor semawar, tabung gas dll. Dengan demikian, perwakilan kelompok  bisa mengembangkan materi pelatihan dengan mempraktekannya di tempat tinggal masing-masing. 
   
Setelah menandatangani surat pernyataan bermaterai untuk melakukan perawatan alat agar tidak hilang, mengganti jika rusak, mengoptimalkan penggunaan dan kewajiban membuat pelaporan pengelolaan, kelompok SPP tersebut tampak riang. Mereka pulang seraya berjanji untuk terus meningkatkan pengelolaan kegiatan simpan pinjam terutama  agar terhindar dari masalah kemacetan.
“Tahun ini kita mendapat alat pengiris singkong semi manual, semoga tahun depan dari hasil usaha kita bisa membeli alat pengiris singkong dengan mesin moderen.” Begitulah harapan salah seorang peserta.
“Ah, saya mah mau alat vacum Frying seperti tadi tayangan Pak FK. Biar seperti di Kota Batu Malang tuh, wortel, nangka, apel, segala macam bisa jadi kripik.” Tutur peserta lain menambahkan.
“Seperti kata Pak FK juga, jangan lupa rumus Cimanuk-nya dipakai agar sanitasi produknya terjaga. Ci = Cuci tangan, tempat, bahan dan peralatan; Ma = memakai air bersih, Nuk = gunakan penutup kepala.” Ketua TPK (Bapak Ohim) ikut nyeletuk celotehan ibu-ibu yang mengemasi barang bawaan bersip pulang.

No
Pengalaman Peserta
Best Practice (Hasil Pelatihan)
1
Singkong diiris dengan serutan (gasrokan=alat manual tradisional) berbentuk parut. Kelemahannya ketebalan hasil irisan tidak rata, proses lebih lama, limbah singkong yang tidak terpotong lebih banyak
Singkong diiris dengan dengan cara memutar piringan pisau iris (alat manual semi moderen). Hasilnya ketebalan hasil irisan relatif rata, proses lebih cepat, rendemen sisa potongan lebih sedikit
2
Proses : Singkong dikupas, lendir dibersihkan, diiris, direndam air, digoreng
Singkong dikupas, diiris, digoreng. Hasilnya kripik lebih gurih, lebih bergizi dan tampilan warna lebih menarik.
3
Seluruh bahan diiris kemudian digoreng
Bahan diiris untuk sekali penggorengan, pengirisan dilanjutkan setelah proses penggorengan sebelumnya selesai. Atau dengan kata lain, bahan segera digoreng (tidak ada jeda lama) setelah proses pengirisan
4
Menggunakan bumbu basah dicampurkan ke minyak panas. Kelemahannya minyak cepat gosong/menghitam
Menggunakan bumbu kering aneka rasa ditabur ke kripik
5
Ketika menggoreng, wajan diisi irisan singkong sampai penuh menutupi seluruh minyak
Wajan diisi irisan singkong disesuaikan dengan kekuatan panas minyak.
6
Irisan singkong tenggelam di dalam minyak, proses menggoreng cukup lama. Hal ini menandakan minyak kurang panas karena perapian lemah.
Minyak sangat panas dengan perapian yang kuat sehingga irisan singkong ketika menyentuh minyak langsung terdorong mengambang ke permukaan dan merekah. Proses menggoreng tidak lebih dari tiga menit
7
Hampir tidak ada jeda antara penggorengan pertama dengan penggorengan berikutnya
Sebelum dilanjutkan ke proses penggorengan berikutnya, minyak dibiarkan kosong tanpa ada irisan singkong beberapa saat. Tujuannya adalah untuk memastikan minyak benar-benar dalam keadaan sangat panas
8
Hasilnya kripik keras
Hasilnya keripik lebih renyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar