Oleh: Kuswan (FK Cikalong-Tasikmalaya)
Persoalannya adalah hasilnya kurang disukai
konsumen karena kripik hasil kelompok ibu-ibu tersebut tidak renyah. Rahasia
dari jawaban persoalan tersebut rupanya adalah hal sederhana yang semuanya
terungkap tuntas melalui pelatihan ini.
Selain
mendapatkan bekal ilmu, setiap kelompok SPP juga mendapat seperangkat alat
pembuatan kripik seperti alat semi manual pengiris singkong, katel besar,
kompor semawar, tabung gas dll. Dengan demikian, perwakilan kelompok bisa mengembangkan materi pelatihan dengan
mempraktekannya di tempat tinggal masing-masing.
Setelah menandatangani surat pernyataan bermaterai untuk melakukan perawatan alat agar tidak hilang, mengganti jika rusak, mengoptimalkan penggunaan dan kewajiban membuat pelaporan pengelolaan, kelompok SPP tersebut tampak riang. Mereka pulang seraya berjanji untuk terus meningkatkan pengelolaan kegiatan simpan pinjam terutama agar terhindar dari masalah kemacetan.
“Tahun
ini kita mendapat alat pengiris singkong semi manual, semoga tahun depan dari
hasil usaha kita bisa membeli alat pengiris singkong dengan mesin moderen.”
Begitulah harapan salah seorang peserta.
“Ah,
saya mah mau alat vacum Frying
seperti tadi tayangan Pak FK. Biar seperti di Kota Batu Malang tuh, wortel,
nangka, apel, segala macam bisa jadi kripik.” Tutur peserta lain menambahkan.
“Seperti
kata Pak FK juga, jangan lupa rumus Cimanuk-nya dipakai agar sanitasi produknya
terjaga. Ci = Cuci tangan, tempat, bahan dan
peralatan; Ma = memakai air bersih, Nuk =
gunakan penutup kepala.” Ketua TPK (Bapak Ohim)
ikut nyeletuk celotehan ibu-ibu yang mengemasi barang bawaan bersip pulang.
No
|
Pengalaman Peserta
|
Best Practice (Hasil
Pelatihan)
|
1
|
Singkong
diiris dengan serutan (gasrokan=alat manual tradisional) berbentuk parut.
Kelemahannya ketebalan hasil irisan tidak rata, proses lebih lama, limbah
singkong yang tidak terpotong lebih banyak
|
Singkong
diiris dengan dengan cara memutar piringan pisau iris (alat manual semi
moderen). Hasilnya ketebalan hasil irisan relatif rata, proses lebih cepat,
rendemen sisa potongan lebih sedikit
|
2
|
Proses
: Singkong dikupas, lendir dibersihkan, diiris, direndam air, digoreng
|
Singkong
dikupas, diiris, digoreng. Hasilnya kripik lebih gurih, lebih bergizi dan
tampilan warna lebih menarik.
|
3
|
Seluruh
bahan diiris kemudian digoreng
|
Bahan
diiris untuk sekali penggorengan, pengirisan dilanjutkan setelah proses
penggorengan sebelumnya selesai. Atau dengan kata lain, bahan segera digoreng
(tidak ada jeda lama) setelah proses pengirisan
|
4
|
Menggunakan
bumbu basah dicampurkan ke minyak panas. Kelemahannya minyak cepat
gosong/menghitam
|
Menggunakan
bumbu kering aneka rasa ditabur ke kripik
|
5
|
Ketika
menggoreng, wajan diisi irisan singkong sampai penuh menutupi seluruh minyak
|
Wajan
diisi irisan singkong disesuaikan dengan kekuatan panas minyak.
|
6
|
Irisan
singkong tenggelam di dalam minyak, proses menggoreng cukup lama. Hal ini
menandakan minyak kurang panas karena perapian lemah.
|
Minyak
sangat panas dengan perapian yang kuat sehingga irisan singkong ketika
menyentuh minyak langsung terdorong mengambang ke permukaan dan merekah.
Proses menggoreng tidak lebih dari tiga menit
|
7
|
Hampir
tidak ada jeda antara penggorengan pertama dengan penggorengan berikutnya
|
Sebelum
dilanjutkan ke proses penggorengan berikutnya, minyak dibiarkan kosong tanpa
ada irisan singkong beberapa saat. Tujuannya adalah untuk memastikan minyak
benar-benar dalam keadaan sangat panas
|
8
|
Hasilnya
kripik keras
|
Hasilnya
keripik lebih renyah
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar