Ada
sebuah pertanyaan pendengar yang mengaku bernama Jeng Ana. Ketika itu saya
sedang on air di Radio Gapura FM, sebuah Radio Komunitas yang saat ini tak lagi
populer dibanding radio komersial. Radio Gapura FM yang didirikan sejak tahun
2008, dipancarluaskan dari rumah pak Dudi, seorang anggota BPD Desa
Palasari,kec. Ciater Kab.Subang Jawa Barat.
Pertanyaanya adalah, mengapa
di PNPM Mandiri Perdesaan kaum perempuan difasilitasi untuk berdaya. Pertanyaan
ini menyusul pertanyaan seorang Bapak sebelumnya yang menyebutkan,
mengapa hanya ada SPP (Simpan Pinjam Perempuan). Apakah kaum laki-laki tidak
dipercaya sehingga tidak diberi kesempatan meminjam dana bergulir tersebut.
Ya, tentu bukanlah hal mudah menjawab pertanyaan tersebut. Sebab, harus menggunakan perspektif atau cara pandang berpikir mereka yang notabene orang desa. Di sebagian masyarakat kita, stigma negatif terhadap kaum perempuan memang masih melekat. Dalam bahasa Jawa, perempuan disebut konco wingkingyang artinya partner urusan belakang (dapur,sumur, kasur).
Meskipun tak seperti dulu, namun
secara substansi pemberdayaan kaum perempuan belum sesuai harapan. Kita bisa
menyaksikan dalam skala kecil/rumah tangga, kaum perempuan masih ditahbiskan
sebagai pekerja yang serba lemah. Konotasinya adalah kaum pria lebih
pandai, lebih berhak, dan lebih berhasil, lebih bisa dipercaya, lebih bisa
dikembangkan dan lain sebagainya.
Anggapan demikian ternyata tak
selalu benar. Tiga belas tahun PNPM Mandiri Perdesaan dijalankan, yang semula
bernama PPK (Program Pengembangan Kecamatan), menghadirkan sebuah trending
conclusion bahwa kaum perempuan jauh lebih tangguh dan kreatif dalam
pemeliharaan akses ekonomi meskipun dalam skala yang sangat kecil.
Jika dibanding kaum pria, yang pada
masa PPK diberi kesempatan mendapatkan pinjaman dana bergulir UEP (Usaha
Ekonomi Produktif), ternyata tingkat pengembalian pinjaman dana bergulir SPP
jauh lebih baik karena mencapai 94% dengan total dana bergulir mencapai Rp.5,5
trilyun. Untuk sebuah program pinjaman dana bergulir tentu saja sudah
sangat baik atau sehat.
Sampai dengan tahun 2013, tidak
kurang dari 11 juta kaum perempuan di Indonesia telah mendapatkan manfaatan
pinjaman dana bergulir SPP PNPM Mandiri Perdesaan. Tentu saja mayoritas dari
mereka adalah RTM (Rumah Tangga Miskin). Sebagaimana kita ketahuiu, paska
krisis ekonomi tahun 1998, lebih dari 40% ekonomi rumah tangga di Indonesia
jatuh dalam kemiskinan.
Maraknya PHK yang memicu
pengangguran baru, sedangkan angkatan kerja sebelumnya belum terserap dalam
dunia kerja, menjadikan kaum perempuan khususnya ibu-ibu rumah tangga berpikir
kreatif untuk mengebulkan asap dapur. Kita bisa melihat trend munculnya usaha
kuliner, fashion, kerajinan, dan lain sebagainya sebagian besar didorong oleh
kaum perempuan.
Namun membuka suatu usaha bagi rumah tangga miskin bukan perkara mudah. Modal menjadi salah satu kendala yang kadang sulit diatasi. Salah satunya karena ketiadaan agunan yang menjadi syarat untuk mendapat pinjaman dari bank konvensional. Maka dikucurkanlah suatu program yang memberi kesempatan kaum perempuan mendapatkan permodalan tanpa agunan.
Program SPP PNPM Mandiri
Perdesaan, didesain secara khusus untuk memberi kesempatan kaum perempuan
miskin mendapatkan akses permodalan. Namun sebenarnya bukan hanya itu, sebab
dengan berkelompok, mereka juga diberi pembinaan dan peningkatan kapasitas baik
secara teknis maupun non teknis. Tujuaannya agar muncul solidaritas bersama
sehingga pengentasan kemiskinan lebih mudah dicapai.
Di provinsi Jawa Barat, sampai
dengan sekarang telah terbentuk sekurang-kurangnya 87.632 Kelompok usaha dengan
jumlah anggota/pemanfaat total mencapai 876.320 orang. Berdasar data, sampai
dengan bulan Agustus 2012, modal awal SPP sebesar Rp 76.318.659.052,- dan aset
Produktif SPP sebesar Rp 662.767.482.418,- sedang tingkat pengembalian SPP
rata-rata mencapai 93,9%.
Keberdayaan ekonomi kaum perempuan
dalam SPP bukan hanya pada persoalan tingkat pengembalian yang relatif baik,
namun hasil-hasil yang telah dicapai melalui pinjaman dana bergulir tersebut.
Sebagai contoh di kecamatan Rongga, Bandung Barat, kelompok usaha krupuk
berhasil mengembangkan usahanya mulai dari volume produksi sampai dengan
jaringan pemasaran.
Demikian halnya di Garut, Sumedang,
Purwakarta, kaum perempuan yang tergabung dalam kelompok peminjam SPP terlibat
aktif dalam musyawarah Khusus Perempuan atau MKP. Sebagai forum yang
difungsikan untuk mengenali kebutuhan berbasis cara pandang mereka sendiri, MKP
terbukti telah mendorong partipasi kaum perempuan secara aktif.
Sekarang ini kita bisa melihat dari
hasil proses pemberdayaan tersebut, seorang anggota ataupun ketua kelompok SPP
yang telah memiliki manajemen pembinaan anggota yang terstruktur, memiliki
tabungan anggota, atau kelebihan lain yang menjadi faktor pendorong kebangkitan
mereka baik dari segi ekonomi, sosial maupun budaya.
Begitulah jawabannya, kaum perempuan
tak lagi bisa dipandang sebagai konco wingking. Mereka
terbukti bisa lebih survive dan tangguh dalam menghadapi krisis ekonomi
meskipun pada level rumah tangga dengan syarat asalkan diberikan ruang
partisipasi yang cukup. Kaum perempuan bisa merencanakan untuk kemandirian
ekonomi mereka secara berkelanjutan.
PNPM Mandiri Perdesaan telah mengujicobakan hal tersebut baik melalui
tahapan perencanaan seperti MKP, sampai dengan pemberian pinjaman dana bergulir
yaitu SPP. Terbukti secara obyektif bahwa ekonomi di pedesaan, dengan topangan
kaum perempuan, saat ini cukup eksis sehingga desa semakin terbuka untuk dikembangkan
dan diberdayakan sumberdayanya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar