Oleh : Apip Haris Arifin (Pegiat RBM Majalengka)
Tak bisa dibantah jika produk usaha kreatif masyarakat desa terkendala di
pemasaran. Demikian halnya yang dialami aneka produk kelompok SPP/UEP PNPM
Mandiri Perdesaan Kabupaten Majalengka. Meskipun sama-sama berupa kacang asin,
tetapi harga jualnya relatif rendah.
Sementara kacang asin yang telah berlabel baik dan dipajang di toko-toko
minimarket dihargai dua kali lipat. Sungguh menyedihkan nasib produk usaha
masyarakat desa yang demikian.
Keadaan inilah yang mendorong Apip Arifin untuk menelisik persoalan
pokoknya. Setelah survey ke beberapa desa, ditemukanlah persoalan yang harus
dijawab. Salah satunya bentuk kemasan (packaging).
Pegiat RBM Majalengka itu berkesimpulan bahwa harga jual produk masyarakat desa rendah karena kemasannya yang tak menarik.
Atas keadaan itulah, pria yang pernah bekerja di Timur Tengah itu mengajak
beberapa pengurus UPK belanja dan belajar praktek pengemasan produk. Akhirnya, di
pertengahan bulan juli 2013 lalu digagaslah ide untuk melakukan membeli
peralatan murah pembuatan packaging.
Satu rombongan dari Kec. Bantarujeg dan Argapura yang terdiri FK, Ketua UPK,
Ketua Kelompok SPP Cipta Lestari, Ketua TPK Desa Haurgeulis menuju Kota Bandung
dari Majalengka. Fokus tujuannya adalah mencari peralatan packaging nan murah. Menyesuaikan kecukupan dana.
Harga peralatannya memang cukup mengagetkan. Sebagai contoh, harga sealer
ukuran medium dengan seal range selebar 7 milimeter dibandrol tiga setengah
jutaan. Jenis itulah yang paling cocok untuk industri rumahan jika dibandingkan
dengan sealer yang harganya di bawah tiga ratus ribu rupiah yang hasilnya
kurang memuaskan.
Dari pasar daerah Metro, rombongan menuju daerah Kiaracondong untuk mencari
peralatan packaging industry atau digital printing kemasan. Melalui diskusi panjang
lebar dengan pemilik toko sadarlah kami bahwa pengembangan usaha haruslah
bermodal besar.
Pemilik peralatan berkata kepada kami, “Berani tidak Bapak investasi di
kemasan sebesar 60 juta rupiah ? Kalau produknya laku sih nggak apa-apa, kalau
nggak, saya kasihan sama Bapak, assetnya mengendap terlalu lama,” ujar pemilik
perusahaan digital printing. Sungguh berat invest dana sebesar itu.
Jika bertumpu pada satu atau dua kelompok tentu memberatkan dari segi
investasi dana. Pilihan logisnya, kelompok SPP-PNPM di satu atau dua kecamatan harus
menggabungkan potensi penyertaan modal. Tentu akan lebih mudah jika gabungan
satu kabupaten. Realistis dan meringankan.
Harga untuk tiap helai kemasan plastik memang cukup murah kalau dihitung
per buah, hanya sekitar 550 rupiah saja, yang membuat mahal adalah kuota
minimum untuk cetaknya. Kita tidak dibolehkan mencetak kemasan di bawah 100
ribu helai plastik kemasan.
Sebenarnya hati kami agak kecewa juga sih. Soalnya kami sudah menyiapkan
design kemasan yang lumayan bagus, setara dengan produk-produk yang beredar di
supermarket
Begitulah akhir dari cita-cita. Upaya kami untuk bersaing sejajar dengan
produk-produk olahan makanan yang sudah lebih dulu populer di supermarket
akhirnya kandas pula, terpukul jatuh oleh keterbatasan anggaran.
Terpaksa kami harus berbalik arah membuat design sticker untuk produk kelas
menengah kami. Dan untuk konsumsi pasar umum kami menjatuhkan keputusan membuat
design yang posisinya ada di pilihan terakhir, yaitu cetak sablon manual.
Biar bagaimana produk usaha kelompok SPP di Kec. Bantarujeg dan Argapura
telah melimpah. Jika tidak dibantuk kemasan, bukan tidak mungkin konsumen akan
menjauh. Meski hanya dengan sablon, yang tentunya manual dan melelahkan,yang
penting tekad untuk memajukan produk usaha di pasaran terjawab.
Apalagi,
jika dihitung lebih dari 20 produk usaha kelompok SPP/UEP di Kec. Argapura dan
Bantarujeg. Kacang aneka rasa, aneka olahan berbahan tepung, keripik dan lain
sebagainya. Yang pasti, dengan adanya kemasan hal itu menambah daya tarik
konsumen untuk membeli.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar